Notification

×

Iklan

Iklan

Diskusi Film Anak Indonesia di PFN Heritage Soroti Pentingnya Ekosistem dan Dukungan untuk Film Anak

Senin, 10 Agustus 2026 | Senin, Agustus 10, 2026 WIB Last Updated 2026-08-10T15:30:17Z
Jakarta, neocakra.com || Persoalan film anak Indonesia tidak hanya berkaitan dengan kualitas produksi, tetapi juga bagaimana sebuah karya dapat menemukan penonton dan mendapatkan dukungan dari ekosistem perfilman. Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam Diskusi Film Anak Indonesia yang digelar dalam rangkaian Kreatif Merdeka Carnival 2026 di PFN Heritage, Jakarta Timur, Senin (10/8/2026).

Diskusi tersebut mempertemukan sejumlah pelaku industri perfilman dan kreatif untuk membahas berbagai tantangan yang dihadapi film anak di Indonesia, mulai dari produksi, komunikasi, distribusi, peran media, hingga keterlibatan orang tua dalam membangun kebiasaan menonton yang sehat bagi anak.

Salah satu pembicara, pendiri sekaligus Direktur Avatara Lintas Media, Herty Purba, menilai film anak memiliki karakteristik dan tantangan tersendiri dibandingkan film yang menyasar penonton umum.

Menurut Herty, sebuah film anak tidak cukup hanya diproduksi dengan cerita dan kualitas yang baik. Karya tersebut juga membutuhkan strategi komunikasi yang tepat agar dapat dikenal dan menemukan penontonnya.

“Kalau Jumbo memang sesuatu yang luar biasa, mungkin strategi komunikasinya, supporting-nya juga luar biasa. Tapi kan nggak semuanya punya rezeki seperti itu,” kata Herty.

Pernyataan tersebut merujuk pada film animasi Jumbo yang menjadi salah satu contoh keberhasilan karya Indonesia yang mampu menarik perhatian penonton keluarga.

Namun, menurut Herty, keberhasilan sebuah film tidak seharusnya hanya diukur berdasarkan pencapaian satu atau dua judul. Industri perlu melihat bagaimana ekosistem film anak dapat dibangun secara berkelanjutan sehingga lebih banyak karya memiliki kesempatan untuk bertemu dengan penontonnya.

Diskusi di PFN Heritage Jadi Ruang Bertukar Gagasan

Kegiatan Diskusi Film Anak Indonesia di PFN Heritage menjadi ruang bagi para pelaku industri untuk membicarakan posisi film anak dalam perkembangan perfilman nasional.

Selain Herty Purba, diskusi tersebut menghadirkan Ketua Umum BPI Fauzan Zidni, sutradara Upie Guava, sutradara sekaligus pemilik Sanggar Ananda Aditya Gumay, serta Ketua Umum KFT Indonesia Indrayanto Kurniawan.

Kehadiran para pelaku industri tersebut juga membuka ruang dialog dengan para pelajar dan generasi muda yang mengikuti kegiatan.

Herty mengapresiasi antusiasme peserta yang menurutnya tidak hanya datang untuk mendengarkan, tetapi juga aktif menyampaikan pertanyaan dan pandangan mengenai dunia film.

“Saya sangat bersyukur hari ini narasumbernya bagus-bagus dan para peserta yang hadir luar biasa. Anak-anak sekolah sangat kritis dan antusias mengikuti ini,” ujarnya.

Menurut Herty, forum seperti ini penting untuk terus dilakukan karena regenerasi industri perfilman tidak cukup hanya dilakukan melalui produksi film baru. Generasi muda juga perlu diperkenalkan dengan proses kreatif dan berbagai profesi di balik sebuah karya film.

Film Anak Bukan Sekadar Hiburan

Dalam diskusi tersebut, Herty juga menyoroti posisi film anak yang menurutnya tidak seharusnya hanya dipandang sebagai tontonan berdasarkan kategori usia.

Film anak memiliki keterkaitan dengan pendidikan karakter, perkembangan anak, pola asuh, hingga tanggung jawab industri dalam menghadirkan tontonan yang sesuai.

“Kalau film anak, pasti banyak yang punya misi yang sama, bagaimana membangun karakter. Ini yang mesti dibantu untuk dikomunikasikan,” ujarnya.

Karena itu, ia menilai komunikasi menjadi salah satu bagian penting dalam membangun ekosistem film anak. Pesan yang dibawa sebuah film perlu disampaikan kepada masyarakat secara tepat tanpa menghilangkan unsur hiburan dan daya tarik cerita.

Herty: Jangan Terburu-buru Menilai Film Anak Jelek

Herty juga mengajak media dan masyarakat untuk memberikan penilaian terhadap film secara lebih proporsional.

Ia menegaskan bahwa kritik terhadap film tetap diperlukan. Namun, kritik sebaiknya tidak langsung membuat sebuah karya mendapat label buruk tanpa melihat proses kreatif yang berlangsung di belakangnya.

“Jangan melihat suatu film langsung, ‘Oh ini filmnya jelek.’ Kalau sudah kayak begitu, hancur. Padahal di balik setiap film pasti ada hal baiknya,” tutur Herty.

Menurutnya, kritik tetap diperlukan apabila sebuah film memang menghadirkan konten yang berpotensi memberikan dampak buruk bagi anak, misalnya mengajarkan kekerasan atau perilaku yang tidak sesuai.

Namun, persoalan cerita, visual, maupun selera artistik sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari ruang kritik yang sehat.

“Kalau memang filmnya mengajarkan kekerasan atau sesuatu yang tidak baik, boleh kita kritik. Tapi kalau masalah cerita atau gambar, sedih kalau pembuat film belum apa-apa sudah dibilang filmnya jelek,” katanya.

Orang Tua Berperan Membentuk Penonton Film Anak

Tantangan film anak juga tidak terlepas dari perubahan pola konsumsi hiburan di era digital.

Herty melihat anak-anak kini semakin terbiasa dengan konten yang cepat dan singkat. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi film yang membutuhkan durasi lebih panjang untuk membangun cerita dan karakter.

“Sekarang semuanya serba cepat. Anak-anak terbiasa dengan sesuatu yang cepat. Tapi kalau nonton film anak, mereka diajari untuk mengikuti cerita,” kata Herty.

Karena itu, orang tua dinilai memiliki peran penting dalam memperkenalkan film kepada anak. Keputusan mengenai tontonan anak tidak sepenuhnya berada di tangan anak, sehingga keterlibatan keluarga menjadi bagian penting dalam membangun budaya menonton film anak.

Dengan demikian, pembangunan penonton film anak tidak hanya menjadi tanggung jawab produser maupun sineas. Media, orang tua, komunitas, institusi pendidikan, pemerintah dan masyarakat juga memiliki peran masing-masing.

PFN Heritage Diproyeksikan Jadi Ruang Kreatif

Selain membahas film anak, kegiatan di PFN Heritage juga menyoroti potensi kawasan tersebut sebagai ruang kreatif yang dapat mempertemukan berbagai subsektor industri kreatif.

Herty menilai PFN Heritage memiliki nilai sejarah yang kuat dalam perjalanan perfilman Indonesia. Karena itu, tempat tersebut dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi ruang yang lebih terbuka bagi berbagai aktivitas film, musik dan kreativitas lainnya.

“Ke depan planning-nya memang PFN Heritage ini menjadi satu. Apa saja yang berhubungan dengan film, musik, semua yang berbentuk kreatif bisa ada di sini,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan ruang kreatif seperti PFN Heritage dapat menjadi alternatif tempat bertemunya pelaku industri, komunitas, pelajar dan masyarakat.

Kegiatan Diskusi Film Anak Indonesia menjadi salah satu contoh bagaimana ruang tersebut dapat dimanfaatkan untuk mempertemukan pelaku industri dengan generasi muda.

Melalui forum semacam ini, pembahasan mengenai masa depan film anak tidak berhenti pada persoalan apakah sebuah film berhasil atau tidak di box office. Lebih jauh, diskusi tersebut mendorong terbentuknya ekosistem yang memungkinkan film anak terus diproduksi, mendapatkan ruang promosi, menemukan penonton, memperoleh kritik yang sehat, sekaligus menjadi bagian dari proses pendidikan dan perkembangan kreativitas generasi muda.

Herty berharap upaya membangun ekosistem tersebut dapat dilakukan secara bersama-sama.

“Harapannya sama-sama kita mencoba membangun. Dari sisi media komunikasi, dari sisi orang tua juga mengajak anak menonton film anak,” pungkasnya.
(Nina)
×
Berita Terbaru Update