Jakarta, neocakra.com || Ramainya pemberitaan mengenai sejumlah persoalan yang menyeret nama beberapa selebriti belakangan ini kembali memancing beragam spekulasi di tengah masyarakat. Selain membahas aspek hukum maupun kehidupan pribadi, tidak sedikit warganet yang mengaitkannya dengan praktik supranatural, termasuk istilah "pelet modern" yang belakangan semakin sering diperbincangkan di media sosial. Di tengah berbagai asumsi tersebut, praktisi spiritual Joko Saputra mengajak masyarakat untuk menyikapinya secara lebih bijak dan menjadikannya sebagai bahan edukasi, bukan untuk menghakimi siapa pun. Isu mengenai sejumlah kasus yang tengah viral memang menjadi perhatian publik, namun seluruh proses hukumnya masih berjalan dan setiap pihak tetap berhak atas asas praduga tak bersalah.
Menurut Joko Saputra, istilah pelet selama ini identik dengan ritual tradisional yang sarat unsur mistis. Namun, seiring perkembangan zaman, masyarakat mulai mengenal istilah "pelet modern", yaitu segala bentuk upaya memengaruhi emosi, ketertarikan, maupun keputusan seseorang melalui pendekatan psikologis, pencitraan, sugesti, komunikasi yang terarah, hingga teknik membangun daya tarik personal.
"Kalau dulu orang membayangkan pelet selalu identik dengan ritual tertentu, sekarang banyak yang memakai istilah itu untuk menggambarkan kemampuan seseorang memengaruhi orang lain secara sangat kuat. Padahal, belum tentu berkaitan dengan hal-hal gaib," ujar Joko dalam wawancara daring, Selasa, 14 Juli 2026.
Ia menilai, dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya setiap orang memiliki kemampuan memengaruhi orang lain. Cara berbicara, bahasa tubuh, penampilan, rasa percaya diri, hingga kemampuan membaca karakter lawan bicara dapat menciptakan ikatan emosional yang kuat. Dalam dunia psikologi maupun komunikasi, hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar dan dipelajari secara ilmiah.
Karena itu, Joko mengingatkan agar masyarakat tidak mudah menyimpulkan bahwa hubungan asmara, kedekatan seseorang, atau berbagai persoalan rumah tangga yang melibatkan figur publik pasti dipengaruhi ilmu gaib.
"Jangan setiap melihat seseorang begitu terpikat kepada pasangannya langsung disebut kena pelet. Bisa jadi memang ada kecocokan karakter, chemistry, komunikasi yang baik, atau faktor psikologis lainnya," jelasnya.
Di sisi lain, ia juga tidak menutup kemungkinan bahwa sebagian masyarakat masih mempercayai adanya praktik supranatural. Kepercayaan tersebut merupakan bagian dari keyakinan masing-masing yang tidak mudah dibuktikan secara ilmiah. Oleh sebab itu, menurutnya, tuduhan bahwa seseorang menggunakan ilmu tertentu sebaiknya tidak disampaikan tanpa dasar yang jelas.
Joko menilai media sosial turut mempercepat munculnya berbagai narasi yang belum tentu benar. Ketika sebuah kasus menjadi viral, berbagai teori bermunculan dan sering kali berkembang jauh dari fakta yang sedang diproses oleh aparat penegak hukum.
"Publik perlu membedakan mana opini, mana keyakinan pribadi, dan mana fakta hukum. Jangan sampai seseorang langsung dihakimi hanya karena isu yang beredar di internet," katanya.
Ia menambahkan, istilah "pelet modern" sebaiknya dipahami sebagai pengingat bahwa manusia memang dapat saling memengaruhi melalui berbagai cara. Pengaruh tersebut bisa bersifat positif, misalnya memberikan motivasi, membangun kepercayaan, atau memperkuat hubungan. Namun, bisa pula bersifat negatif apabila digunakan untuk manipulasi emosional, kebohongan, ataupun eksploitasi perasaan orang lain.
Karena itu, Joko mengimbau masyarakat agar lebih memperkuat logika, menjaga kesehatan mental, dan membangun hubungan yang sehat berdasarkan komunikasi, keterbukaan, serta rasa saling menghormati.
"Jangan mudah percaya pada sensasi. Kalau ada persoalan, lihat dulu faktanya. Kalau ada proses hukum, hormati prosesnya. Dan kalau membahas spiritualitas, jadikan sebagai ruang edukasi, bukan untuk menyerang atau menghakimi seseorang," tutup Joko Saputra.***
(Nina)