Jakarta, neocakra.com || Film drama dinilai masih menjadi salah satu genre yang memiliki prospek kuat di industri perfilman Indonesia. Kedekatan cerita dengan realitas kehidupan masyarakat, persoalan keluarga, perjuangan ekonomi, hingga kisah nyata yang menginspirasi menjadi kekuatan yang membuat film drama tetap relevan dan diminati penonton.
Hal tersebut mengemuka dalam acara diskusi film drama yang digelar di PFN Heritage, Jakarta, dengan menghadirkan sejumlah pelaku industri perfilman, yakni Jeremias Nyangoen, sutradara Black Coffee, Ronny Mepet, sutradara film Nia, serta Joseph Tarigan, produser film Made in Bali.
Dalam diskusi tersebut, para narasumber juga membahas perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang kini mulai masuk ke berbagai aspek produksi film.
Jeremias Nyangoen menilai perkembangan AI merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari seiring perubahan zaman. Menurutnya, teknologi tersebut dapat dimanfaatkan dalam industri film dengan tetap memperhatikan batasan-batasan tertentu.
“Sekarang kita tidak bisa menolak perkembangan peradaban. Banyak juga manfaatnya. Tetapi sampai hari ini, apakah ada satu film yang semuanya AI murni kemudian berhasil sukses? Kan belum tentu juga. Masih kelihatan AI-nya,” ujar Jeremias.
Menurut dia, pemanfaatan AI dalam perfilman masih akan terus berkembang. Namun, teknologi tersebut belum serta-merta menggantikan seluruh proses kreatif manusia dalam menghasilkan sebuah film.
Ia menilai kekuatan utama perfilman Indonesia justru berada pada kemampuan mengangkat cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Film yang kuat di film kita adalah yang memang menceritakan mengenai kondisi masyarakat kita,” katanya.
Jeremias menilai Indonesia tidak harus selalu berusaha mengejar teknologi maupun gaya perfilman negara lain. Menurutnya, Indonesia memiliki kekuatan sendiri yang sudah terbukti sejak lama, terutama melalui genre drama, komedi, dan horor.
“Kalau kita mau mengikuti teknologi luar atau apa, sudah kalah kita dibandingkan Korea atau Amerika. Kekuatan kita dari dulu kalau saya perhatikan adalah drama, komedi, dan horor,” ujarnya.
Drama dan Kisah Nyata Dinilai Tak Pernah Kehabisan Cerita
Sementara itu, pembahasan mengenai potensi film yang mengangkat kisah viral dan cerita nyata juga menjadi bagian penting dalam diskusi.
Joseph Tarigan menilai cerita yang bersumber dari peristiwa nyata memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat. Ketika sebuah kisah sudah menjadi perhatian publik, pengembangan cerita tersebut ke dalam film berpotensi menghadirkan pengalaman yang lebih dekat bagi penonton.
Menurut Joseph, salah satu kekuatan film yang mengangkat kisah viral adalah kemampuannya menyampaikan pesan sosial, edukasi, sekaligus inspirasi.
Ia mencontohkan kisah seorang anak sekolah yang sejak kelas 4 SD sudah berjualan gorengan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya sekaligus membiayai sekolahnya sendiri.
“Jadi saya rasa mengangkat cerita ini sangat menarik, karena sangat menginspirasi dan mengedukasi seluruh anak-anak di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara, bahkan di dunia,” tuturnya.
Joseph juga menegaskan bahwa drama merupakan genre yang tidak akan pernah habis. Alasannya, persoalan manusia dan kehidupan sehari-hari selalu menghadirkan cerita baru.
Mulai dari kesulitan ekonomi, persoalan keluarga, biaya pendidikan, utang, tempat tinggal, hingga hubungan antara orang tua dan anak merupakan persoalan yang dapat terus dikembangkan menjadi cerita film.
Menurutnya, sejumlah film yang mengangkat persoalan kehidupan sehari-hari menunjukkan bahwa drama tetap memiliki pasar tersendiri di Indonesia.
“Drama ini memang sangat menjual kalau kita garap dalam bentuk film maupun seri,” kata Joseph.
Ia melihat sejumlah film yang hadir belakangan juga memperlihatkan bahwa cerita keluarga dan persoalan sosial masih mampu menarik perhatian penonton. Film seperti Jangan Buang Ibu, Ibu Terlambat, Seandainya Aku Tidak Menikah dengan Ayahmu, hingga Ayah, Aku Mau Cerita disebut sebagai contoh cerita yang mengandalkan kekuatan drama dan persoalan yang dekat dengan masyarakat.
Joseph mengatakan, cerita drama juga dapat menyentuh berbagai isu sosial, termasuk persoalan hukum, kepolisian, hingga fenomena main hakim sendiri.
“Intinya cerita drama tidak akan pernah habis. Bahkan mungkin ke depannya semakin banyak cerita-cerita drama,” ujarnya.
Kisah Nyata Membutuhkan Riset dan Kehati-hatian
Meski memiliki potensi besar, Joseph mengingatkan bahwa memproduksi film yang bersumber dari kisah nyata bukan perkara sederhana. Ada proses riset dan survei yang harus dilakukan sebelum cerita tersebut dikembangkan menjadi sebuah film.
“Pastinya kita riset, survei, dan juga harus berhati-hati dalam geraknya,” jelasnya.
Menurut dia, film drama, terlebih yang diangkat dari kisah nyata, memiliki tantangan tersendiri karena pembuat film harus memperhatikan berbagai aspek, termasuk etika dan fakta yang berkaitan dengan orang maupun peristiwa yang menjadi sumber cerita.
“Kisah nyata itu tidak boleh melanggar etika-etika yang memang sudah ada, meskipun pada dasarnya ada juga bumbu-bumbu di dalam film,” katanya.
Joseph menilai proses kreatif tetap diperlukan agar kisah nyata dapat diterjemahkan menjadi karya sinema yang menarik tanpa menghilangkan esensi cerita.
Diskusi tersebut pada akhirnya memperlihatkan bahwa di tengah pesatnya perkembangan teknologi AI, kekuatan cerita tetap menjadi faktor penting dalam perfilman Indonesia.
Teknologi dapat membantu proses kreatif dan produksi, tetapi kedekatan emosional antara cerita dengan penonton tetap menjadi salah satu kunci. Cerita tentang keluarga, perjuangan hidup, persoalan sosial, cinta, kehilangan, hingga kisah inspiratif dinilai akan selalu memiliki ruang di hati penonton karena bersumber dari pengalaman manusia yang tidak pernah berhenti berubah.
(Nina)